Loading...

Jumat, 29 Juli 2011

Warga Minta Makam Mbah Priok Ditutup


  

Deden Yulianes
29/07/2011 23:57
Liputan6.com, Tanjung Priok: Ratusan warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Priok berdemonstrasi di depan pintu masuk Pos VIII Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (29/7). Mereka meminta PT Pelindo II selaku pengelola pelabuhan bertaraf internasional itu segera menutup makam Mbah Priok.

Sebab, Pelindo selama ini terkesan memberi angin segar bagi keberadaan makam hingga penuntasan masalah terkatung-katung. Mereka menilai keberadaan makam telah menghambat pembangunan di sekitar pelabuhan.

Selain itu, para demonstran juga mendesak Pelindo memberi perhatian nyata bagi masyarakat sekitar yang terkena imbas aktivitas pelabuhan seperti seperti kemacetan jalan akibat antrean truk trailer pengangkut kontainer. (APY/Vin) 

Sabtu, 23 Juli 2011

Satpol PP Dikeroyok Warga Penghuni Bekas Komplek Makam Mbah Priok

Tampak Satpol PP sekarat, akhirnya meninggal usai DIKEROYOK warga yang tak mau direlokasi bersama  makam Mbah Priok

Seorang warga yang menolak direlokasi bersama makam mbah priok, membacok Satpol PP
Tak ada yang mampu menolong Satpol PP ini dari amukan warga bekas komplek makam Mbah Priok

Kamis, 21 Juli 2011

USUT DAN TANGKAP AKTOR INTELEKTUAL PENGEROYOKAN DAN PENGANIAYAAN USTADZ NUR YUSUF (UCI SANUSI) DI MAKAM MBAH PRIOK


PRESS REALEASE
            Rabu (20/7) sekitar jam 12.00, ustadz Nur Yusuf (Uci Sanusi), korban penyekapan serta penganiayaan oknum yang menjaga makam Mbah Priok didampingi tim kuasa hukum, keluarga dan masyarakat Jakarta Utara mendatangi kantor Komnas HAM untuk mengadukan dan meminta pengungkapan kasus kekerasan fisik yang juga pelanggaran HAM itu.
Korban dan keluarganya meminta Komnas HAM untuk segera bertindak agak tidak lagi terjadi pelanggaran HAM yang berkedok agama. Mereka juga mengutuk keras tindakan premanisme yang dilakukan atas nama agama dan mendesak aparat untuk menindak para pelakunya serta dalang di balik peristiwa ini agar tidak terjadi konflik horizontal.
Menurut Kuasa Hukum ust. Uci, Panca Nainggolan, SH, Komnas HAM berkewajiban untuk menciptakan masyarakat dan bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi keadilan melalui penghargaan terhadap hukum dan hak asasi manusia.
Indonesia adalah negara hukum dan sejak kelahirannya pada tahun 1945 menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sudah memuat beberapa ketentuan tentang penghormatan Hak Asasi Manusia yang sangat penting. Hak-hak tersebut antara lain hak semua bangsa atas kemerdekaan (alinea pertama Pembukaan); persamaan kedudukan semua warga negara Indonesia di dalam hukum dan pemerintahan (Pasal 27 ayat (1); kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu (Pasal 29 ayat (2); hak setiap orang atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama serta perlindungan atas hak-hak tersebut (Pasal 18).
Dewasa ini dimana semangat toleransi yang dikedepankan dan dijunjung tinggi oleh pemerintah terasa dinodai oleh kejadian yang sangat mengenyuhkan dan tragis dimana telah terjadi suatu tindakan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang sudah dikampanyekan pemerintah tentang anti kekerasan, yakni terjadinya penyekapan dan penganiayaan terhadap salah seorang anak bangsa, Ustadz Nur Yusuf alias Uci Sanusi di areal Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara.
Untuk itu, atas nama korban dan keluarga, Tim Kuasa Hukum Ust. Nur Yusuf mendesak:
1.      Dihentikannya aksi kekerasan dalam bantuk apapun di sekitar areal Makam Mbah Priok, khususnya. Dan di seluruh antero bumi Nusantara.
2.      Mendorong Komnas HAM untuk segera membentuk Tim Pencari Fakta untuk menginvestigasi dan mengungkap motif dibalik aksi penyekapan dan penganiayaan tersebut.
3.      Meminta Komnas HAM untuk mendesak Kepolisian RI agar segera menangkap dan mengadili pelaku dan aktor intelektual dibalik kasus penyekapan dan penganiayaan tersebut.
4.      Menghimbau seluruh masyarakat Jakarta Utara untuk bersikap tenang dan tidak terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung awab, agar tidak terjadi konflik horizontal di antara warga masyarakat.
 
Hormat kami,
Tim Kuasa Hukum Ust. Nur Yusuf
 
Panca Nainggolan SH

Rabu, 20 Juli 2011

Korban Centeng Ane Ngadu ke Komnas HAM

Cucuku... 

Mbah kagak tau kalo ternyate sepeninggal eMbah ada cucu dan cicit suka nakal ame tetangge. Liat entu si AW, BM, TH, IN, MT... ke-lime-nye sekarang mesti nginep di penjare gara2 ngegaplokin Ustad Uci ampe mukenye kayak melon, tembem abis, gigi-giginye juge dicopotin pake tang, matenye bengkak ampir copot eh copot, copot! mangkenye, kelimenya kena perkare sebab sale gawe, kena deh pasal 333 ato 170 KUHP. Rasain! Jangan pade nngikutin mereke, ye.

Gara-gara entu lah sekarang lain ceritenya, dengerin ye ane mau cerite seperti nyang Mbah bace di internet siang tadi.

Ustadz Uci alias Nur Yusuf (38), nyang disekap penjage bekas tempat ane pernah tinggal, lantaran dituding nyolong kotak amal di bekas makam ane,Mbah Priok, tadi ngedateingin kantor Komnas HAM pake ngesot, eh naek kursi rode ditemenin ame kuase hukumnye. Si Ustad Uci menta Komnas HAM ngebentuk tim pencari fakte (TPF) untuk buke semue soal kasusnye. Wah, kalo beneran dibuke, kalian cucu-cicit ane bise berabe, soalnye keberadaan ane yang cume cerite, dongeng, bakal diusik juge. ntar kalo ane, juge eloe pade, kehilangan ini tempat kite punye, masa' ane tinggal di dunia maye, mending kalo ame lune maye, ini dunie maye, blog.

oh ye cucu-cicit ane, tadi entu Ustad Uci, dateng ke Komnas HAM pake peci putih kayak mau berangkat haji sambil ngeliatin bibirnye yang sekarang monyong gara2 ditonjokin centeng2 nyang jagain tempet ane dulu dirawat setelah kecelakaan perahu nyang nimpe ane.

Kuase hukumnye, si Pance Nainggolan, ngomong ame wartawan, katenye gini nih, lihat, dengerin ane ngikutin gaye si Pance, "kami datang ke Komnas HAM untuk meminta perlindungan atas klien kami terutama terhadap kasus kekerasan yang menimpa dia. Untuk kasusnya sendiri memang sudah dilimpahkan kepada pihak kepolisian, dan kami harap serta kami yakin bahwa pihak kepolisian mampu mengusut secara tuntas," gitu katenye.

Pance juge nambahin kate-katenye, kalo pihaknye ngedesek Komnas HAM supaye stop saban aksi kekerasan dalam bentuk ape pun di sekitar areal makam ane, Mbah Priok. Nah lho. Sekarang kalian pade ati-ati ye, kalian lagi disorot ame medie masse.

Segini aje deh catetan ane malem ini.

ttd,

Mbah Priok

Ustad Uci Belum Pulih, Berkursi Roda Datangi Komnas HAM

Ustadz Uci alias Nur Yusuf (38), pria yang disekap lantaran dituding mencuri kotak amal di Makam Mbah Priok, Koja, mendatangi kantor Komnas HAM dengan menggunakan kursi roda. Ditemani kuasa hukumnya, Uci meminta Komnas HAM membentuk tim pencari fakta (TPF) untuk mengungkapkan kasusnya.

Uci yang mengenakan peci putih ini sempat memperlihatkan bibirnya yang terluka akibat penganiayaan dan penyekapan yang diduga dilakukan para pengurus kompleks makam Mbah Priok. Namun dengan cepat ia langsung menutupinya dengan masker berwarna putih.

"Kami datang ke Komnas HAM untuk meminta perlindungan atas klien kami terutama terhadap kasus kekerasan yang menimpa dia. Untuk kasusnya sendiri memang sudah dilimpahkan kepada pihak kepolisian, dan kami harap serta kami yakin bahwa pihak kepolisian mampu mengusut secara tuntas," kata kuasa hukum Uci, Panca Nainggolan, di kantor Komnas HAM, Jl Latuhalhari, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/7/2011).

Panca menambahkan kedatangan mereka mendesak Komnas HAM agar menghentikan aksi kekerasan dalam bentuk apa pun di sekitar areal makam Mbah Priok. Mereka juga mendorong Komnas HAM untuk membentuk tim pencari fakta (TPF) untuk menginvestigasi dan mengungkapkan motif di balik aksi penyekapan dan penganiayaan. 

"Kami meminta Komnas HAM mendesak Kepolisian RI agar segera menangkap dan mengadili pelaku serta aktor intelektual di balik kasus penyekapan dan penganiayaan tersebut," pintanya.

Peristiwa ini bermula ketika ibunda dari seorang anak bernama Urip meminta pertolongan Yusuf untuk mencari anaknya di makam Mbah Priok pada 26 Juni 2011. Urip yang suka salat di makam itu, rupanya sudah tidak kembali ke rumahnya sejak 24 Juni 2011.

Ibunda Urip semakin khawatir karena dia mendapat informasi bahwa Urip ditahan oleh para pengurus kompleks makam Mbah Priok, lantaran kedapatan mencuri kotak amal di makam tersebut. Oleh karena itu, atas permintaan ibunda Urip, pada tanggal 29 Juni 2011, Ustadz Uci bersama dengan lima orang mendatangi makam tersebut.

Sesampainya di makam, Ustadz Uci meminta agar pria yang bernama lengkap Angga Prayitna alias Urip itu dibebaskan. Namun, saat itu hanya Ustadz Uci yang diperbolehkan masuk ke makam, sementara yang lainnya tidak.Sejak saat itu, Ustadz Uci pun turut disekap. Dia bersama Urip bahkan dianiaya hingga babak belur. Berhari-hari setelah mendatangi makam tersebut, Ustadz Uci tidak kunjung pulang. Keluarga kemudian melaporkan hilangnya Ustadz Yusuf ke Polres Pengamanan Pelabuhan dan Pantai Tanjung Priok pada 2 Juli 2011.

Atas laporan tersebut, akhirnya polisi mengamankan lima pelaku yang melakukan penyekapan yaitu AW, BM, TH, IN, dan MT. Kelimanya dijerat dengan pasal 333 atau 170 atau 351 KUHP. 
(DETIK)

Dari Komnas HAM, Aksi Keluarga Ustad Uci Dilanjutkan ke Polda

Hari ini, Selasa (20/7), keluarga Ustad Uci akan ke Komnas Ham pukul 09.30 dilanjukkan aksi ke Polda untuk memperoleh keadilan atas perlakuan premanisme penjaga komplek bekas makam mbah priok.
Keluarga Ustadz Nur Yusuf alias Uci mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia segera melakukan investigasi menyusul dugaan penganiayan yang dialami sang ustadz di area Makam Mbah Priok, Jakarta Utara. Demikian pernyataan kuasa hukum Ustadz Uci, Panca di Jakarta, Rabu (13/7).

Panca menyebut tindakan penganiayaan kelompok tertentu yang dilakukan terhadap kliennya itu sangatlah biadab. Karena itu, pihaknya mendesak polisi segera menangkap aktor intelektualnya. Pernyataan serupa juga dikemukakan Juru Bicara Ketua Majelis Ulama Indonesia Jakarta Utara, Ahmad Ibnu Abidin. Termasuk Sejumlah tokoh masyarakat Tanjung Priok, yang tergabung dalam Forum Masyarakat Antipenyekapan dan Kekerasan [baca: Polisi Didesak Tahan Pelaku Penyekapan Ustadz].
Hingga kini, Ustadz Uci masih tergeletak tak berdaya di ruang perawatan Rumah Sakit Polri Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur. Dokter juga kembali melakukan operasi pada bagian wajahnya yang terluka berat. Selain itu, kedua tangan dan tulang rusuknya juga patah. Diperkirakan Uci masih membutuhkan perawatan intensif untuk memulihkan kondisi fisiknya [baca: Ustadz Disekap di Makam Mbah Priok]. (ADI/YUS)/liputan6

Senin, 18 Juli 2011

Sejarah HOAX Mbah Priok

Mari membuka tabir hoax seputar Mbah Priok

1. Sejarah penamaan Tanjung Priok yang berasal dari Priok yang menyelamatkan Habib Al-Haadad dari tenggelamnya kapal lalu kemudian prioknya ditanam disamping makam, lalu di atas priok itu tumbuh pohon, adalah hoax.

Penjelasan : Sebenarnya, nama Tanjung Priok berasal dari abad 1 Masehi, ketika itu masyarakat pribumi yang masih primitif dan belum mengenal Perahu layar yang besar menyebut perahu Bangsa china dan Arab dengan nama Sampan Priok, yang artinya Periuk raksasa. Perahu-perahu itu bersandar di pantai yang luas, sehingga disebut Tunjung Periok, artinya Tanah tempat Periuk besar. Pada abad-abad selanjutnya, secara kebetulan pula perdagangan meningkat, masyarakat setempat yang banyak pengrajin Periuk menimbun barang dagangan mereka di atas rakit-rakit bambu di pantai.

2. Habib Al-Haadad lahir pada 1727 dan wafat pada 1756 adalah hoax

Penjelasan : Habib Al-Haadad adalah keturunan ketiga (cicit) dari SUltan Hamid dari Palembang. Sultan Hamid sendiri wafat pada 1820 dalam usia 70 tahun (lahir 1750), bagaimana mungkin cicit duluan lahir daripada kakek buyut?

3. Habib Al-Haadad adalah salah satu pe-nyiar agama di Jawa adalah hoax

Penjelasan : Habib Al-Haadad memang berniat untuk melakukan syiar agama di Pulau Jawa. Dia mendengar kisah Faletehan dan Para Wali, sehingga merasa terpanggil untuk datang ke Jawa.

Pada usia yang sangat muda ia berangkat ke Nusa Kelapa (Jakarta). Tapi di tengah perjalanan kapalnya karam, dan diapun selamat karena tertolong periuk yang dipakainya buat menopang samapai ke pantai. Setibanya di Pantai, dia ditolong masyarakat. Diapun mengakui bahwa dia keturunan Sultan Palembang yang ingin melakukan syiar di Jawa. Mendengar hal itu masyarakat setempat menjadi senang, karena kebetulan mereka membutuhkan seorang habib untuk mendampingi Para Habib di Priok.
Dia sendiri tidak pernah melakukan syiar agama kemana-mana, dia hanya menjadi penceramah agama di daerah Tanjung Priok sampai meinggal setahun setelah selamat dari tenggelam itu.

4. Tanah Makam adalah milik Habib Al-Haadad adalah hoax.

Penjelasan : Habib Al-Haadad adalah Habib ke 11 yang dimakamkan disana. Habib pertama yang dikubur disana adalah Habib Abdullah bin ALatas, seorang Habib dari Kebun Jeruk yang meninggal pada 1760, selanjutnya masih ada 9 Habib lainnya sebelum terakhir adalah Mbah Priok. Yang paling terkenal dari 11 itu adalah Habib Luar Batang yang hidup pada masa bersamaan dengan Habib Al-Haadad. Habib Luar Batang sangat dihormati oleh orang Betawi, bahkan narasumber (Ridwan Saidi) diberi nama Ridwan oleh Habib Luar Batang ini pada awal abad 19.
Keturunan 10 Habib sudah pernah menyerahkan tanah makam tersebut kepada Pemerintah Belanda dan Indonesia karena makam tersebut sudah bercampur baur dengan makam masyarakat.
Kecuali (orang yang mengaku) sebagai Ahli Waris Habib Al-Haadad, justru mengajukan SUrat Hak Evigendoom.

5. Habib Al-Haadad punya keturunan adalah hoax,

Penjelasan : Habib Al-Haadad sampai saat wafatnya belum pernah menikah, apalagi sampai punya keturunan, sehingga dipertanyakan, siapa sebenarnya orang-orang yang mengaku Ahli Warisnya?

6. TPU Semper sudah memiliki 11 Makam Habib sejak 1997, sehingga dipertanyakan, kalau memang jasad Mbah Priok masih di Koja, lalu siapakah yang dipindah dan dimakamkan di Semper?

dari kicauan di forum detik 

satpol pp meregang nyawa di komplek mbah priok

untuk melihat video satpol PP meregang nyawa korban rusuh komplek mbah priok klik satpol pp meregang nyawa

Ustaz Uci Mengadu ke LPSK

Siang ini Tim Pengacara Ustadz Nur Yusuf alias Ustaz Uci Sanusi akan melaporkan pengaduan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). 

Ustaz Uci adalah korban penyiksaan/penganiayaan oknum jamaah di kawasan Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara beberapa waktu lalu . 

Rencananya, pengaduan ini akan disampaikan Senin (18/7) siang ini. Tim pengacara Ustaz Uci telah menyiapkan kronologis peristiwa dan bukti foto-foto korban akibat penyiksaan. 

Beberapa waktu lalu, Ustaz Uci mengalami penyiksaan yang dilakukan sekelompok orang di areal Makam Mbah Priok. 

Terkait dengan keberadaan makam Mbak Priok, tahun lalu, ribuan warga dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terlibat bentrokan saat penertiban makam Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad atau Mbah Priok.

Pada bentrokan itu terdapat tiga orang tewas dari petugas Satpol PP, serta korban luka hingga mencapai 200 orang terdiri atas anggota polisi, Satpol PP, dan masyarakat sekitar. 

Warga juga membakar sedikitnya 50 unit kendaraan milik Satpol PP dan Polri, termasuk truk kendaraan berat untuk menertibkan bangunan di sekitar makam Mbah Priok.MICOM

Sabtu, 16 Juli 2011

Kemusyrikan Makam Mbah Priok dan Tragedi Penyekapan Ustadz Nur Yusuf

 
Di makam Mbah Priok itu telah terjadi praktek penyimpangan akidah. Anak-anak diberi sugesti, ujian sekolah tidak usah belajar, minum air Mbah Priok dijamin lulus. Air zam-zam dari Mekkah sudah muncul di situ. Anti bacok.
Macam-macam, propaganda yang disebarkan kelompok Mbah Priok ini. Makam Mbah Priok menimbulkan banyak mudaratnya dibanding manfaatnya.
***
Rabu (13/7) pagi sejumlah tokoh agama, ormas Islam dan tokoh masyarakat Jakarta Utara berkumpul dan mengadakan pernyataan bersama terkait penyekapan serta penganiayaan terhadap ustadz Nur Yusuf (Uci) yang dilakukan oknum yang menjaga makam Mbah Priok.
Acara yang digelar di kantor Walikota Jakarta Utara ini melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan ormas Islam. Mereka mengutuk keras tindakan premanisme yang dilakukan atas nama agama dan mendesak aparat untuk menindak para pelakunya serta dalang di balik peristiwa ini agar tidak terjadi konflik horizontal.
Kronologis penyekapan ustadz Nur Yusuf
Sumber: Beny Biki
Kejadian bermula pada tanggal 30 Juni 2011. Ustadz Nur Yusuf ditanyakan oleh tetangganya perihal anak didiknya yang sudah delapan hari tidak pulang-pulang. Karena Ustadz Nur Yusuf ini aktif juga di makam Mbah Priok, lalu ia menuju ke makam. Ustadz Nur Yusuf datang berempat, tapi hanya Ustadz Nur Yusuf yang boleh masuk ke makam. Ustadz Yusuf melakukan pengecekan apa betul anak yang tidak pulang-pulang itu ada di makam Mbah Priok.
Dan ternyata di makam Mbah Priok itu ada anak yang bersangkutan. Lalu kemudian ia menjemputnya untuk pulang. Setelah beberapa lama, saat mau pulang, Ustadz Nur Yusuf dipanggil oleh kelompok Mbah Priok. Kelompok ini beralasan Ustadz Nur Yusuf dipanggil Habib Ali. Akhirnya Ustadz Nur Yusuf masuk kembali.
Ustadz Nur Yusuf diajak ke dalam sebuah kamar. Lalu lampu dimatikan. Saat itu waktu sekitar jam 3-4 subuh. Di dalam kamar itu, selang beberapa lama ketiga rekan Ustadz Nur Yusuf itu mendengar teriakan Allahu Akbar dari suara Ustadz Nur Yusuf.
Rekannya bertiga ini menganggap bahwa Ustadz Nur Yusuf sedang melakukan wirid atau dzikir. Akhirnya mereka bertiga pulang, dan menyampaikan kepada keluarga bahwa Ustadz Nur Yusup masih berada di sana (Makam Mbah Priok). Itu kejadian tanggal 1 Juli.
Selang tiga hari, Ustadz Nur Yusuf tidak juga kunjung pulang ke rumah. Akhirnya, H. Otong, ayah dari Ustadz Nur Yusuf berinisiatif mendatangi Makam Mbah Priok, lalu melakukan pengaduan kepada pihak kepolisian. Polisi lalu melakukan penyelidikan.
Pihak kepolisian menemukan fakta dan bukti Ustadz Nur Yusuf dalam kondisi babak belur. Saat pertama kali ditemukan kondisi Ustadz Yusuf sangat memprihatinkan. Kalau kata keluarganya muka atau kepala Ustadz Yusuf seperti buah melon, bulat, hidung tidak kelihatan.
Ustadz Yusuf mengaku dipukuli, disundut rokok, dalam kondisi dipukuli, tangannya diborgol, hingga tangannya patah. Giginya juga dicabut secara paksa empat buah. Sehingga saat ini Ustadz Nur Yusuf masih dalam perawatan di RS Kramat Jati (RS Polri).
Dari pantuan kami, memang banyak anak-anak remaja usia SMP-SMA yang sering berkunjung ke makam Mbah Priok. Bahkan banyak yang menginap di sana dengan waktu lama. Jadi, kami berupaya agar mereka-mereka ini ditarik kembali. Nanti MUI bertugas untuk menangkal agar remaja-remaja tidak terlibat di makam Mbah Priok.
Hasil penelitian menyebutkan jasad Mbah Priok sudah dipindahkan.
Sumber: Ibnu Abidin, LC, Ketua Komisi Ukhuwah MUI Jakarta Utara
Respon atau pun sikap masyarakat terhadap makam Mbah Priok yang hanya mitos seperti yang kita lihat, tidak semua masyarakat menerima hasil penulisan buku yang ditulis MUI DKI Jakarta. Namun, belakangan setelah mereka melihat perkembangan, mereka berbalik merespon buku yang ditulis MUI itu.
Terkait kasus Ustadz Nur Yusuf ini, MUI bersama ormas Islam lainnya akan melakukan upaya jalur hukum.
Pada intinya, berziarah kubur itu bagus, mengingat kematian. Apalagi jika kita berziarah ke makam orang shaleh. Tapi, ketika kita meminta-minta kepada makam, itu musyrik. Batas musyrik ini sangat tipis.

Sumber: Amin Assalam, Ketua Komisi Pendidikan MUI Jakarta Utara
Kalau kita baca buku hasil penelitian MUI, maka terungkap jika di makam Mbah Priok itu telah terjadi praktek penyimpangan akidah. Anak-anak diberi sugesti, ujian sekolah tidak usah belajar, minum air Mbah Priok dijamin lulus. Air zam-zam dari Mekkah sudah muncul di situ. Anti bacok.
Macam-macam, propaganda yang disebarkan kelompok Mbah Priok ini. Makam Mbah Priok menimbulkan banyak mudaratnya dibanding manfaatnya.
Insya Allah kami juga bersama ormas-ormas Islam akan melaporkan hal ini kepada Komnas HAM.
MUI tidak memiliki otoritas untuk menutup makam Mbah Priok, mesti banyak penyimpangan-penyimpangan. Kami hanya bisa memberikan saran-saran dan menempuh langkah hukum. Terkait pengeluaran fatwa, kami MUI Jakarta Utara juga tidak memiliki wewenang untuk mengeluarkannya. Yang berwenang MUI Pusat dan MUI DKI Jakarta, silahkan rekan-rekan tanyakan kepada mereka.
ERAMUSLIM

Jumat, 15 Juli 2011

Kronologis penyekapan ustadz Nur Yusuf


Kejadian bermula pada tanggal 30 Juni 2011. Ustadz Nur Yusuf ditanyakan oleh tetangganya perihal anak didiknya yang sudah delapan hari tidak pulang-pulang. Karena Ustadz Nur Yusuf ini aktif juga di makam Mbah Priok, lalu ia menuju ke makam. Ustadz Nur Yusuf datang berempat, tapi hanya Ustadz Nur Yusuf yang boleh masuk ke makam. Ustadz Yusuf melakukan pengecekan apa betul anak yang tidak pulang-pulang itu ada di makam Mbah Priok.

Dan ternyata di makam Mbah Priok itu ada anak yang bersangkutan. Lalu kemudian ia menjemputnya untuk pulang. Setelah beberapa lama, saat mau pulang, Ustadz Nur Yusuf dipanggil oleh kelompok Mbah Priok. Kelompok ini beralasan Ustadz Nur Yusuf dipanggil Habib Ali. Akhirnya Ustadz Nur Yusuf masuk kembali.

Ustadz Nur Yusuf diajak ke dalam sebuah kamar. Lalu lampu dimatikan. Saat itu waktu sekitar jam 3-4 subuh. Di dalam kamar itu, selang beberapa lama ketiga rekan Ustadz Nur Yusuf itu mendengar teriakan Allahu Akbar dari suara Ustadz Nur Yusuf.

Rekannya bertiga ini menganggap bahwa Ustadz Nur Yusuf sedang melakukan wirid atau dzikir. Akhirnya mereka bertiga pulang, dan menyampaikan kepada keluarga bahwa Ustadz Nur Yusup masih berada di sana (Makam Mbah Priok). Itu kejadian tanggal 1 Juli.

Selang tiga hari, Ustadz Nur Yusuf tidak juga kunjung pulang ke rumah. Akhirnya, H. Otong, ayah dari Ustadz Nur Yusuf berinisiatif mendatangi Makam Mbah Priok, lalu melakukan pengaduan kepada pihak kepolisian. Polisi lalu melakukan penyedikan.

Pihak kepolisian menemukan fakta dan bukti Ustadz Nur Yusuf dalam kondisi babak belur. Saat pertama kali ditemukan kondisi Ustadz Yusuf sangat memprihatinkan. Kalau kata keluarganya muka atau kepala Ustadz Yusuf seperti buah melon, bulat, hidung tidak kelihatan.

Ustadz Yusuf mengaku dipukuli, disundut rokok, dalam kondisi dipukuli, tangannya diborgol, hingga tangannya patah. Giginya juga dicabut secara paksa empat buah. Ustadz Nur Yusuf selama dua pekan dirawat di RS Polri Kramat Jati.

Kamis, 14 Juli 2011

MUI Jakut: Penyimpangan Akidah Sering Terjadi di Makam Mbah Priok

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Utara (Jakut) prihatin dengan praktik kemusyrikan yang terjadi di areal yang dianggap oleh sebagian orang sebagai makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad atau populer dengan sebutan Mbah Priok. Hal ini dikatakan Amin Assalam, Ketua Komisi Pendidikan MUI Jakut dalam jumpa pers di kantor MUI Jakut, Rabu (13/7), menyikapi penyekapan dan penganiayaan seorang ustadz oleh penjaga makam Mbah priok.

Berdasarkan hasil penelitian, banyak praktik penyimpangan akidah yang terjadi di makam Mbah Priok. Seperti ada sugesti yang sengaja disebarkan kepada anak-anak remaja, kalau ujian sekolah itu tidak perlu belajar, cukup minum air Mbah Priok pasti lulus,” kata Amin kepada wartawan.

Bahkan, kata Amin, penjaga makam Mbah Priok mengeluarkan pernyataan sesat bahwa sumber air yang berada di makam Mbah Priok terhubung dengan air Zam-zam yang berada di tanah suci Mekkah.

“Makam Mbah Priok menimbulkan banyak mudaratnya dibanding manfaatnya,” jelasnya.
Meski, terjadinya banyak penyimpangan akidah, MUI Jakut tidak memiliki wewenang untuk menutup makam tersebut. MUI Jakut, hanya bisa memberi saran-saran dan melakukan pembinaan terhadap masyarakat.

Penyekapan dan Penganiayaan

Sementara itu, MUI dan sejumlah pimpinan ormas Islam Jakut dalam pernyataan sikapnya mengutuk tindakan kekerasan dan premanisme terhadap seorang guru ngaji bernama Yusuf Nur atau biasa dipanggil Ustadz Uci yang dilakukan sekelompok orang di area makam Mbah Priok.

Kronologis kejadian penyekapan tersebut diceritakan Beni Biki, yang mewakili keluarga Ustadz Uci, berawal saat Nur Yusuf disekap salah satu pengurus kompleks makam Mbah Priok karena dituding ingin menolong tetangga yang anaknya tidak pulang-pulang selama delapan hari.

“Karena Ustadz Nur Yusuf ini aktif juga di makam Mbah Priok, lalu ia menuju ke makam untuk mencari anak yang hilang itu. Dan ternyata memang benar ada di sana,” ungkap Beni.

Beni menambahkan, Ustadz Nur Yusuf mendatangi Makam Mbah Priok pada Kamis, 30 Juni 2011 dengan tiga temannya. Saat Uci ingin membawa anak itu pulang, ternyata tidak diizinkan pengurus makam karena dijaga dua orang.

Tak lama berselang, jelas Beni, Uci dipanggil oleh seorang pengurus makam. Ustadz Nur Yusuf langsung dimasukkan ke ruangan gelap dan dianiaya oleh beberapa pengurus Makam Mbah Priok. "Ketiga rekannya mendengar Ustadz Nur Yusuf berteriak takbir, namun mereka mengira ustadz sedang berzikir,” jelasnya.

Setelah dua hari Uci tak kunjung pulang, keluarga pun panik dan mencari keberadaanya. Keluarga juga melaporkan hal ini ke Polres Jakarta Utara pada Minggu 3 Juli 2011 dalam kondisi tubuh penuh luka.

“Ustadz Yusuf mengaku dipukuli, disundut rokok. Dalam kondisi dipukuli, tangannya diborgol, hingga tangannya patah. Giginya juga dicabut secara paksa empat buah, sehingga saat ini Ustadz Nur Yusuf masih dalam perawatan di RS Kramat Jati (RS Polri),” paparnya.* SAHID

MUI Jakarta Utara Kutuk Kekerasan Terhadap Ustadz

MUI Jakarta Utara Kutuk Kekerasan Terhadap Ustadz | Poskotanews.com

“Apapun alasannya, tindakan kekerasan tidak dibenarkan, terlebih bila kekerasan yang dilakukan mengatasnamakan Islam. Itu jelas tidak benar,” kata Amin, disela-sela acara Pernyataan Sikap Bersama Tokoh Agama, Ormas Islam, dan Tokoh Masyarakat Jakarta Utara.


Beneran ada MAKAMnya Mbah Priok nggak sih? Atau cuma Maqam (tempat singgah) saja???

Selasa, 12 Juli 2011

Pengurus Makam Mbah Priok Culik Ustad

newmedia: MUI Soal Mbah Priok "Perlu Penjernihan Sejarah"

newmedia: MUI Soal Mbah Priok "Perlu Penjernihan Sejarah":

teka-teki silang

"SALAH satu fokus penelitian MUI adalah seputar sejarah sosok Habib Hasan al-Hadad atau Mbah Priok. Kekeliruan informasi sejarah itu tertuli..."

newmedia: Kasus ‘Mbah Priok’, MUI mengkaji 4 kejanggalan

newmedia: Kasus ‘Mbah Priok’, MUI mengkaji 4 kejanggalan: "MUI temukan kejanggalan soal 'dongeng' Mbah Priuk (foto: dok. Poskota) PERISTIWA kerusuhan di Koja, Jakarta Utara, 14 April 2010 lalu, ya..."

Asal-usul Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok abad 19


KALAU saja tidak terjadi peristiwa konflik berdarah di bekas TPU Dobo, mungkin sejarah asal usul Tanjungpriok tidak banyak dibahas. Namun, karena konflik berdarah di tempat tersebut dikait-kaitkan dengan sosok yang dikenal dengan julukan ‘Mbah Priok’, pembahasan mengenai apa dan bagaimana sejarah Tanjungpriok men-jadi perbincangan menarik.

Memang, sejauh ini masyarakat di Jakarta sendiri, bahkan di seluruh dunia sekalipun, lebih mengenal Tanjungpriok sebagai sebuah kawasan pelabuhan bertaraf international yang di dalamnya terdapat kegiatan bongkar muat barang dan peti kemas ekspor dan impor. Tanjungpriok pun banyak dilihat dari perannya sebagai gerbang ekonomi nasional.

Begitulah yang terjadi hingga kemudian muncul peristiwa yang memprihatinkan itu. Tanggal 14 April 2010 lalu, peristiwa memilukan terjadi. Peristiwa itu adalah kerusuhan yang melibatkan Satpol PP dengan massa dari pihak yang mengaku sebagai ahli waris Habib Hasan Al Haddad, di Jln Dobo, Koja, Jakarta Utara.

Isu pun berkembang liar. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab menyebarkan informasi bahwa petugas Satpol PP akan membongkar makam keramat Habib Hasan Alhadad yang diyakini sebagai tokoh di balik nama Tanjungpriok. Sebagian orang menyebutnya dengan sebutan ‘Mbah Priok’.

Legenda
Semasa hidupnya, sosok ‘Mbah Priok’ dilukiskan sebagai tokoh heroik yang menentang Belanda sejak dari tanah kelahirannya di Palembang, Sumatera Selatan. Pada saat usia muda, dia berangkat ke Pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam

Dari cerita itu pula, diketahui bahwa Habib Hasan bersama Habib Ali berlayar menuju Batavia selama dua bulan. Berbagai rintangan menghadang selama dalam perjalanan, seperti serbuan armada perang Belanda dengan persenjataan lengkap. Namun, serangan itu tak satu pun berhasil mengenai perahu yang mereka tumpangi.

Setelah berhasil lolos dari kejaran Belanda, ujian lain menghadang perahu yang dinaiki Habib Hasan Alhadad. Ombak besar menggulung perahu tersebut. Semua perlengkapan di dalam perahu hanyut dibawa gelombang. Sementara yang tersisa hanya alat penanak nasi atau disebut dengan periuk.

Hingga kemudian ombak yang lebih besar datang menghantam dan membuat kapal terbalik. Dengan kondisi yang lemah dan kepayahan, keduanya terseret hingga daratan. Ketika ditemukan warga, Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad sudah tewas. Hanya Muhammad Ali Alhadad yang selamat. 

Akhirnya warga memakamkan jenazah Habib Hasan tak jauh dari tempat ditemukannya, yakni di Pondok Dayung.  Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung yang menyertainya sedangkan periuk diletakkan di sisi makam.

Konon, dayung yang dijadikan nisan tumbuh menjadi pohon tanjung. Sementara, periuk yang semula diletakkan di sisi makam terseret arus ombak hingga ke tengah laut. Lama- kelamaan nama daerah itu disebut Tanjungpriok.

Meski hanya berdasarkan cerita yang bersifat legenda, hingga kini banyak yang meyakini bahwa cerita tentang ‘Mbah Priok’ sebagai sosok di balik sejarah penamaan Tanjungpriok itu benar adanya. Padahal, sesuai hasil investigasi yang dilakukan Tim Pengkaji MUI menunjukkan bahwa cerita tersebut tidak benar. Apalagi kisah ‘Mbah Priok’ seperti tertuang dalam manakib yang dibuat pengelola makam penuh dengan mitos yang cenderung menyesatkan. 

Fakta sejarah
Jika kisah ‘Mbah Priok’ dianggap sebagai sebuah kebohongan terkait dengan sejarah Tanjungpriok, bagaimana kisah sebenarnya tentang kawasan yang terletak di pantai utara Jakarta ini? 

Para pakar sejarah yang selama ini banyak melakukan penelitian mengenai asal-usul Tanjungpriok membantah kisah yang menyebutkan Habib Hasan Alhadad atau ‘Mbah Priok’ merupakan sosok di balik sejarah penamaan Tanjungpriok. Menurut mereka, sejarah Tanjungpriok tidak ada kaitannya sama sekali dengan keberadaan Habib Hasan Alhadad maupun riwayat ‘Mbah Priok’ tersebut. 

Pengamat sejarah Jakarta, Alwi Shahab, mengungkapkan asal-usul atau sejarah Tanjungpriok sudah ada sejak zaman prasejarah. Kawasan ini sudah berperan sebagai pelabuhan penting sejak masih abad 1 Masehi. Karena, di kawasan tersebut terdapat daratan yang menjorok ke laut atau yang dikenal dengan istilah tanjung. 

Pada saat itu salah satu komoditas perdagangan yang terkenal adalah alat menanak nasi dari tanah liat yang disebut periuk. Pada saat itu, tokoh terkenal pembuat periuk adalah Aki Tirem, seorang penghulu kampung yang hidup pada abad ke-2 Masehi. Aki Tirem tinggal di pinggiran kali yang saat ini dikenal dengan Sungai Tirem di Warakas, Tanjungpriok.

Dari sisi toponomi wilayah, cerita ini ada benarnya. Di Indonesia, sebutan Tanjung merujuk pada kontur tanah, sedangkan periuk dikaitan dengan tempat pembuatan alat memasak nasi banyak ditemui pada saat itu. 

Ini sesuai dengan penelitian seorang pakar sejarah Jerman Kees Green, yang menyimpulkan bahwa banyak tempat di Jakarta merujuk namanya dari kontur tanah, misalnya Tanah Abang Bukit, Tegal Alur, Rawasari, Bojong Gede, dan lainnya. Alhasil, keterangan yang menyebutkan sejarah Tanjungpriok terkait dengan riwayat hidup Habib Hasan Alhadad atau ‘Mbah Priok’ terbantahkan. 

Di sisi lain, Habib Hasan Alhadad atau ‘Mbah Priok’ yang disebut-sebut sebagai tokoh penyebar Islam di Jakarta ternyata merupakan orang saleh yang bekerja sebagai pelaut. Kepergiannya ke Jakarta (Batavia waktu itu) hanya untuk berziarah ke makam keramat Luar Batangmakam Sunang Gunungjati di Cirebon, serta makam Sunan Ampel di Surabaya. Bahkan diceritakan bahwa sebelum sampai di tempat tujuan, Habib Hasan Alhadad meninggal ketika masih berada di laut. Itu berarti, kalaupun dia berniat menyebarkan Islam, misinya itu belum sempat terlaksana.  Kriuk!

Sabtu, 09 Juli 2011

Tokoh Masyarakat Priok Kecam Penyekapan Ustadz

metrotvnews
Jakarta: Sejumlah tokoh masyarakat Tanjung Priok yang tergabung dalam Masyarakat Anti Penyekapan dan Kekerasan, mengecam tindakam penyekapan seorang ustadz dan santri di dalam gubah Al Hadad Makam Priok. 


Mereka meminta polisi segera menangkap otak pelaku penyekapan yang disertai penyiksaan tersebut.

Hal itu dinyatakan oleh sejumlah tokoh Tanjung Priok usai shalat Jumat di Masjid Al'Araf Amir Biki, Jakarta Utara.

Mereka menilai kasus penyekapan dan penyiksaan yang dilakukan oleh oknum pengurus makam priok terhadap Ustadz Nur Yusuf alias Ustadz Uci dan seorang santrinya Angga alias Urip, sangat tidak bisa ditolerir oleh agama.

Tuduhan kalau sang ustadz dan santrinya yang mencuri kotak amal makam Priok sangat tidak mendasar karena sang ustadz dikenal baik di lingkungan masyarakatnya.

Peristiwa penyekapakan Ustadz Uci sendiri bermula saat sang ustadz berniat mengambil seorang santri yang merupakan tetangganya, dari dalam area makam karena telah disekap selama lebih dari seminggu dengan tuduhan mencuri kotak amal.

Bukannya berhasil membebaskan santri bernama Angga, Ustadz Uci kemudian menjadi korban penyekapan selama lebih dari tiga hari dan mendapatkan penyiksaan.

Ustadz Uci sendiri kini masih dirawat di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kasus penyekapan ini sendiri kini dalam penanganan Polda Metro Jaya.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak maqam Mbah Priok, terkait adanya sejumlah kelompok yang berperilaku kekerasan yang ada di areal maqam.(RIE)

Jumat, 08 Juli 2011

Kerabat Melarang Makam Mbah Priok Dikeramatkan karena Bisa Timbulkan Syirik

Keluarga ahli waris Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad  alias Mbah Priuk, meminta makam di area TPU Dobo, Koja, Jakarta Utara tidak dikeramatkan. Pesan tersebut disampaikan Habib Abdurrahman, salah seorang keluarga Al Haddad di Palembang, ketika ditemui Tim Pencari Fakta (TPF) DPRD DKI

Lulung Lunggana, Ketua TPF DPRD DKI,  mengatakan secara khusus Habib Abdurahman menitipkan pesan tersebut kepadanya. “Habib Abdurrahman menginginkan umat Islam tidak mengkultuskan Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad dan melarang makamnya dikeramatkan karena perbuatan tersebut bisa menimbulkan syirik. Kalau mau berdo’a untuk Habib Hasan silahkan saja,” kata Lulung Lunggana, menirukan perkataan Habib Abdurrahman, Senin (3/5).

Dijelaskan politisi PPP ini, Habib Abdurrahman merupakan keturunan dari salah satu saudara kandung Habib Hasan Al Haddad atau yang dikenal Mbah Priuk yang berdomisili di Palembang. Dari keterangan Habib Abdurrahmanpun, semasa hidup Mbah Priuk memiliki 3 saudara kandung. Namun, tidak memiliki keturunan karena meninggal sebelum menikah. Sehingga keluarga yang mengaku ahli waris bukan merupakan keturunan langsung. “Mereka hanya keturunan dari saudaranya Mbah Priuk,” ujar Lulung.

Diungkapkan Lulung, keturunan Mbah Priuk memang berada di dua daerah yakni Palembang dan Jakarta. “Garis besarnya, Habib Abdurahman menyatakan keluarga di Palembang tidak ingin terlibat dalam masalah sengketa tanah. “Alasannya Mbah Priuk tidak pernah punya tanah di sana,” tegasnya. Kendati demikian, dalam pesannya Habib Abdurahman, meminta Pemprov DKI untuk merawat makam itu. klik laman asli di sini

Lima Penyekap Ustaz Uci di Tanjung Priok Ditahan

ilustrasi
JAKARTA--MICOM: Pelaku penganiayaan dan penyekapan ustaz bernama Nur Yusuf, 38, yang akrab dipanggil Ustaz Uci, dan Angga Priyatna, 20, di salah satu masjid kawasan Pelabuhan Tanjungpriok telah ditahan Satuan Reserse Mobil (Resmob) Polda Metro Jaya. 

"Uci dan Angga dianiaya dan disekap di sana. Karena tidak terima, keluarga Ustaz Uci melaporkan ke Polda Metro Jaya. Nah, Resmob menangani masalah penyekapannya. Angga yang diduga mencuri ditangani KPPP," ujar Kasat Resmob Herry Heryawan saat dihubungi, Rabu (6/7). 

Pelaku penyekapan dan penganiayaan yang diketahui berjumlah lima orang saat ini ditahan di Polda Metro Jaya. "Mereka yang berinisial AW, BM, TH, IN, dan MT saat ini sudah ditahan di Polda Metro Jaya dan sedang menjalani pemeriksaan," ujar Herry. 

Kisah penyekapan dan penganiayaan Ustaz Uci bermula dari permintaan seorang tetangga untuk mencari Angga Priyatna yang tak kunjung pulang sejak Sabtu (26/6). Diperoleh informasi, Angga disekap karena diduga mencuri uang kotak amal. 

Berdasarkan informasi tersebut, pada Rabu (29/6), Ustaz Uci bersama lima temannya menyembangi lokasi keberadaan Angga. Tidak berapa lama, sejumlah lelaki tiba-tiba datang menghampiri dan membawa pergi Ustadz Uci. (*/OL-5)


MIOL